JAKARTA – Praktik copy paste atau copas dalam pemberitaan dinilai semakin mengkhawatirkan. Fenomena tersebut tidak hanya merusak kualitas jurnalistik, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi kepercayaan publik terhadap media.
Jurnalis senior, Agus Kliwir menegaskan bahwa wartawan profesional harus mampu membedakan informasi mentah dengan fakta yang layak diberitakan.
Menurutnya, wartawan sejati tidak akan menulis berita tanpa proses verifikasi yang kuat.“Kalau hanya menyalin berita orang lain
Itu bukan kerja wartawan. Itu hanya memperbanyak informasi tanpa tanggung jawab,” kata Agus Kliwir, Selasa (14/4/26).
Ia menjelaskan bahwa tugas wartawan bukan sekadar menulis, tetapi menggali data dari sumber terpercaya, melakukan konfirmasi silang, dan menyusun berita secara berimbang.
Tanpa proses tersebut, berita bisa menjadi bias, bahkan berpotensi memfitnah pihak tertentu. Agus Kliwir mengingatkan bahwa dasar jurnalistik adalah 5W+1H.
Prinsip tersebut menjadi pondasi, agar berita tetap objektif dan tidak dibangun dari asumsi. “berita itu harus jelas apa yang terjadi
Siapa yang terlibat, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana prosesnya. kalau itu tidak ada, berarti tulisannya lemah,” tegasnya.
Dia juga menyoroti bahwa wartawan harus memegang kode etik jurnalistik sebagai pedoman utama.
Di antaranya tidak membuat berita bohong, tidak menghakimi, tidak mencampuradukkan fakta dengan opini, serta menjaga privasi narasumber.
Menurutnya, kesalahan wartawan dalam menulis berita dapat berdampak luas, karena informasi yang dipublikasikan bisa memengaruhi opini masyarakat dan menimbulkan kegaduhan sosial.
“Pers punya kekuatan besar. karena itu wartawan harus sadar bahwa setiap kalimat yang ditulis harus bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Agus Kliwir menambahkan, bahwa Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, sudah mengatur dengan jelas peran pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, serta lembaga ekonomi.
Namun, ia mengingatkan bahwa pers tidak boleh disalahgunakan. “kemerdekaan pers itu dijamin dan dibarengi tanggung jawab.
Jangan sampai kebebasan digunakan untuk memelintir fakta demi klik,” katanya.
Menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa wartawan yang profesional adalah wartawan yang mau bekerja keras, turun ke lapangan
Melakukan cek fakta, serta berani bertanggung jawab atas setiap berita yang ditulis. “Wartawan itu bukan pembuat konten viral. tetapi menyampaikan kebenaran,” pungkasnya.(red)














































