PATI – Akar yang kuat membuat pohon mampu berdiri menghadapi perubahan zaman. Filosofi serupa menjadi gambaran yang diangkat Padepokan Paku Bumi Gus Alif Sabdodadi “Alam Sejati” melalui prinsip “Nguripi lan Ngayomi”.
Pendiri Padepokan Paku Bumi Gus Alif Sabdodadi “Alam Sejati”, Agus Kliwir mengatakan prinsip tersebut menggambarkan pentingnya manusia memiliki pijakan nilai, sekaligus kepedulian terhadap kehidupan di sekitarnya.
“Paku Bumi itu menjadi simbol pijakan dan keteguhan. Tetapi keteguhan tidak berarti harus keras kepada kehidupan.
Justru dari keteguhan itu kita belajar untuk nguripi dan ngayomi,” ujar Agus Kliwir, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, “Nguripi” merupakan ajakan untuk menghadirkan manfaat, sedangkan “Ngayomi” merupakan sikap menjaga dan melindungi.
Keduanya saling melengkapi. Kehidupan akan memiliki makna ketika seseorang tidak hanya mampu bertahan untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi bagian yang bermanfaat bagi masyarakat.
Konsep Alam Sejati juga mengangkat nilai budaya Jawa sebagai bagian dari pesan kehidupan.
Wayang, akar, bumi dan unsur alam menjadi simbol yang mengingatkan manusia terhadap asal-usul, kebersamaan dan keseimbangan.
Agus Kliwir menilai budaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pedoman untuk menghadapi kehidupan masa kini.
“Yang kita jaga bukan hanya bangunan atau simbolnya, tetapi nilai yang ada di dalamnya. Bagaimana manusia tetap punya akar, punya prinsip dan tetap menghargai kehidupan,” lanjutnya
Ia berharap filosofi “Nguripi lan Ngayomi” dapat diterapkan melalui tindakan nyata, mulai dari gotong royong, menjaga lingkungan, membantu sesama hingga membangun hubungan sosial yang harmonis.
Pada akhirnya, Paku Bumi Gus Alif Sabdodadi “Alam Sejati” membawa satu pesan, manusia boleh berdiri kuat seperti paku bumi
Tetapi kekuatan itu hendaknya tetap digunakan untuk menghidupi, menjaga dan mengayomi kehidupan”, tutur Agus Kliwir.(red)














































