PATI – Kondusivitas suatu daerah tidak bisa dibangun, hanya melalui slogan keamanan dan pernyataan komitmen.
Tanpa tindakan nyata, komunikasi yang terbuka, serta keberanian menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat dan sinergitas antarlembaga berisiko menjadi formalitas belaka.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam diskusi antara Agus Kliwir, Direktur Utama PT MNS Grub Pers, CEO PT SMGC sekaligus Ketua Umum Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (RPPAI)
Dias Ardian Purnomo, Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Pati, dan Kasat Intelkam Polresta Pati, Kompol Suroyoto, S.H., M.M., Kamis (5/11/2026).
Dalam pembahasan tersebut, muncul penekanan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) membutuhkan keterlibatan semua unsur, bukan hanya mengandalkan aparat kepolisian.
Agus Kliwir menilai, salah satu tantangan menjaga keamanan daerah adalah memastikan setiap persoalan masyarakat mendapat perhatian dan penanganan sejak dini.
Jangan sampai keluhan warga diabaikan, komunikasi tersumbat, hingga akhirnya berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Menurutnya, tokoh masyarakat, tokoh agama, ulama, umaro, LSM, ormas, Karang Taruna, dan insan pers harus memiliki tanggung jawab bersama, dalam membangun lingkungan yang aman.
“Sinergitas jangan hanya terlihat ketika ada pertemuan atau kegiatan bersama. Yang lebih penting adalah bagaimana semua pihak hadir, ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Jangan sampai masyarakat hanya menjadi objek imbauan, tetapi aspirasinya justru tidak didengar,” kata Agus Kliwir, wartawan senior
Ia juga menyoroti pentingnya peran media sebagai kontrol sosial. Pers harus tetap independen
Berani mengangkat persoalan berdasarkan fakta, serta memberikan ruang bagi suara masyarakat. Kritik bukanlah bentuk permusuhan
Melainkan bagian dari mekanisme pengawasan untuk mendorong perbaikan. Sementara itu, keterlibatan pemuda melalui Karang Taruna dinilai penting
Untuk membangun kepedulian sosial, mencegah potensi gesekan, dan memperkuat komunikasi antarkelompok masyarakat.
Bagi Agus Kliwir, ukuran keberhasilan menjaga kamtibmas bukan banyaknya agenda koordinasi ataupun dokumentasi kegiatan, tetapi seberapa efektif persoalan masyarakat ditangani.
Ia mengingatkan, jangan sampai aparat dan seluruh elemen masyarakat baru terlihat kompak setelah gangguan keamanan terjadi.
Pati membutuhkan kerja nyata sebelum masalah membesar, bukan sekadar kesepakatan yang terdengar baik di meja diskusi”, ungkap Agus Kliwir.(red)













































