PATI – Realisasi Kedelai 969 hektare jadi modal program 2027, Kayen Petakan Lahan hingga 1.518 Hektare
Pengalaman budidaya kedelai pada 2026 menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mempersiapkan program ketahanan pangan tahun 2027 di wilayah Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.
Pada tahun 2026, realisasi tanam kedelai di wilayah Kayen tercatat mencapai 969 hektare. Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran potensi pengembangan kedelai di wilayah tersebut.
Untuk persiapan 2027, Lanal Semarang bersama unsur pertanian dan kelompok tani melakukan pemetaan potensi lahan. Hasilnya, terdapat 1.518 hektare lahan yang tersebar di lima desa.
Koordinator BPP Kayen, Parsimin menyebutkan, potensi tersebut terdiri atas Desa Jatiroto 575 hektare, Desa Kayen 323 hektare, Rogomulyo 140 hektare, Pesagi 210 hektare, dan Trimulyo 270 hektare.
Data tersebut dibahas dalam rapat koordinasi penyusunan CPCL kedelai yang berlangsung di Aula BPP Kayen, Rabu (30/9/2026).
Rapat dipimpin Paster Lanal Semarang Mayor Laut (T) Edi Waluyo sesuai arahan Danlanal Semarang Kolonel Marinir Sabprowanto, S.H., M.Sc.
Sekitar 30 peserta dari TNI AL, Dinas Pertanian Kabupaten Pati, BPP Kayen, PPL dan kelompok tani mengikuti pembahasan ini.
Dalam persiapan program, faktor waktu tanam menjadi perhatian. Petani di wilayah Kayen umumnya menggunakan pola Padi MT I, Padi MT II, kemudian kedelai.
Sementara masa tanam kedelai yang ideal berlangsung pada Mei hingga Juni. Apabila panen padi mengalami keterlambatan sampai Juli, jadwal tanam kedelai dapat ikut bergeser.
Perubahan jadwal tersebut berpotensi berkaitan dengan ketersediaan air, dan meningkatnya risiko organisme pengganggu tanaman.
“Karena itu, Lanal Semarang akan melakukan identifikasi terhadap sumber air melalui Posal jajaran.
Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan lokasi yang masuk program memiliki dukungan teknis yang memadai.
Di sisi lain, BPP Kayen bersama PPL dan kelompok tani akan memfinalisasi CPCL serta memastikan kesanggupan petani untuk melaksanakan penanaman.
Dengan potensi lahan mencapai 1.518 hektare dan pengalaman realisasi 969 hektare pada 2026, persiapan program 2027 diarahkan agar lebih terukur.
Program tidak hanya menghitung luas lahan, tetapi juga memperhatikan kesiapan petani, air, pola tanam, serta kondisi teknis masing-masing lokasi”, kata Parsimin.(red)














































