JAKARTA – Kehadiran nasi gandul asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah, di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, tidak hanya menjadi kabar menggembirakan
Bagi pecinta kuliner tradisional, tetapi juga menjadi sinyal kuat kebangkitan makanan khas daerah di pusat kota.
Restoran Nasi Gandul Harmonis yang diresmikan pada Rabu (22/4/2026) disebut sebagai langkah besar
Untuk mengangkat martabat kuliner lokal, agar kedepan mampu bersaing dengan tren makanan modern yang selama ini mendominasi pasar perkotaan.
Ketua Umum IKKP sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Firman Soebagyo menegaskan bahwa nasi gandul bukan hanya menu makanan, tetapi simbol tradisi masyarakat Pati yang memiliki akar sejarah panjang.
Firman menyebut nasi gandul telah dikenal sejak ratusan tahun lalu, dan tetap bertahan. karena kekuatan cita rasa serta nilai budaya yang melekat di dalamnya
“Ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga sejarah dan tradisi masyarakat Pati yang harus terus dilestarikan,” kata Firman kepada wartawan
Ia juga menilai keberanian pengusaha asal Pati, Wardoyo membuka restoran di kawasan elit Senopati merupakan langkah strategis yang patut dihargai.
Menurutnya, tidak semua pelaku usaha daerah berani melakukan ekspansi dengan konsep modern dan investasi besar.
Maka harapan kedepan, restoran ini menjadi inspirasi bagi pengusaha lain, agar tidak ragu membawa kuliner daerah menuju pasar nasional.
“Keberanian membuka usaha di lokasi strategis dengan investasi besar ini patut diapresiasi. Ini bagian dari upaya menjadikan kuliner Pati sebagai destinasi utama,” tambahnya.
Dukungan terhadap nasi gandul juga datang dari tokoh nasional, Komjen Pol. Agus Andrianto dan Komjen Pol (pur) Oegoseno yang menilai nasi gandul memiliki makna sosial yang sangat kuat.
Menurut Agus, makanan tersebut mencerminkan karakter masyarakat Jawa yang sederhana, guyub, serta penuh kebersamaan.
“Nasi gandul ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga menggambarkan kehidupan masyarakat yang sederhana, guyub, dan penuh kebersamaan. Ini yang harus kita jaga,” ujarnya.
Agus mendukung penuh langkah memperkenalkan nasi gandul lewat restoran modern di kota besar.
Karena hal tersebut, menjadi bentuk konkret pelestarian budaya sekaligus perluasan pasar. Firman pun menegaskan bahwa promosi nasi gandul tidak boleh berhenti di Jakarta.
Dia berharap ke depan nasi gandul bisa menembus pasar internasional seperti makanan Indonesia lainnya yang sudah lebih dulu dikenal di luar negeri.
“Kita berharap ke depan nasi gandul bisa dikenal secara internasional, bahkan hadir di berbagai negara,” imbuh Komjen Pol (pur) Oegoseno.
Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk tokoh politik dan tokoh nasional, nasi gandul Pati dinilai memiliki peluang besar
Untuk menjadi ikon kuliner Indonesia yang mampu membawa nama bangsa di mata dunia”, tuturnya.(red)










































