PATI – Penghormatan kepada para ulama dan pendahulu menjadi salah satu pesan penting dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026
Melalui Kemah 1001 Santri yang diselenggarakan yayasan pengembangan madarijul huda (YPM) Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati.
Melalui agenda Tribute to Masyayikh, para peserta diajak mengenang perjuangan tokoh -tokoh yang telah meletakkan dasar pendidikan Islam, dan berkontribusi dalam mencerdaskan generasi bangsa.
Doa bersama dan tahlil dipimpin langsung oleh H. Muhammad Yasin Shodiq, S.T., M.Pd untuk mengenang jasa KH. Hasbullah, para masyayikh, serta tokoh pendahulu yang berperan dalam perjalanan pendidikan di YPM Kembang.
Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan lembaga pendidikan tidak lahir secara instan.
Di balik keberadaan pesantren dan lembaga pendidikan Islam, terdapat perjuangan, pengorbanan, serta pengabdian panjang para ulama yang harus dijaga oleh generasi penerus.
Ketua Panitia Kemah 1001 Santri, Budi Utomo menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri seharusnya menjadi kesempatan untuk meneladani perjuangan ulama dan santri, bukan sekadar menjalankan kegiatan seremonial.
“Peringatan Hari Santri harus menjadi momentum untuk meneladani perjuangan ulama dan santri,” ujar Budi Utomo kepada wartawan, Selasa (20/10/2026).
Sementara itu, Ketua Yayasan YPM Kembang, KH. Fuad Abdillah menambahkan bahwa pendidikan pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman, tanpa kehilangan fondasi akhlak.
Menurutnya, santri perlu memiliki bekal ilmu yang memadai, tetapi tetap menjadikan akhlak sebagai pedoman utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan tema Kemah 1001 Santri, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Generasi santri diharapkan mampu meneruskan perjuangan para pendahulu melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, integritas, dan kepedulian sosial.
Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober juga berkaitan erat dengan sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Hal ini mencerminkan peran ulama dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kini, perjuangan tersebut perlu dilanjutkan melalui jalur pendidikan dan pengabdian nyata bagi masyarakat.
Selain agenda penghormatan kepada masyayikh, kegiatan kemah juga diisi api unggun, dan pentas seni untuk membangun kebersamaan, kreativitas, serta rasa percaya diri peserta.
YPM Kembang berharap nilai-nilai perjuangan para ulama tidak hanya dikenang dalam kegiatan peringatan, tetapi juga menjadi pedoman dalam perilaku sehari-hari.
Bagi generasi santri, menghormati ulama bukan hanya mengenang jasa masa lalu, melainkan meneruskan perjuangan mereka melalui ilmu, akhlak, dan kontribusi nyata bagi bangsa”, kata KH. Fuad Abdillah.(red)
















































