PATI – Rencana pendirian Museum Budaya Kabupaten Pati mendapat perhatian serius dari Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Eks Karesidenan Pati.
Gagasan yang didorong Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra hari ini dinilai berpotensi menjadi salah satu ikon baru daerah, apabila dipersiapkan secara matang.
Ketua Koordinator SMSI Eks Karesidenan Pati, Agus Kliwir mengatakan Pati membutuhkan ruang khusus yang mampu menyatukan sejarah, kebudayaan, kesenian dan berbagai peninggalan daerah dalam satu tempat.
“Pati memiliki perjalanan sejarah dan kebudayaan yang panjang. Jangan sampai generasi muda hanya mengenal Pati dari cerita lisan.
Harus ada tempat yang bisa menjadi pusat dokumentasi sekaligus ruang edukasi,” ujar Agus Kliwir kepada wartawan, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, rencana pemanfaatan bangunan bekas kantor Satpol PP Kabupaten Pati di belakang kompleks Pemda Pati, Jalan RA Kartini Nomor 24, dapat dikaji secara serius sebagai calon lokasi museum.
Agus Kliwir menilai keberadaan museum nantinya tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.
Jika dikemas secara modern dan profesional, museum dapat menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik bagi wisatawan dari luar daerah.
“Konsepnya jangan hanya menyimpan benda lama. Museum harus dibuat hidup, informatif dan menarik.
Ada sejarah Pati, tokoh daerah, tradisi masyarakat, kesenian, benda bersejarah, arsip, foto dan perkembangan Pati dari masa ke masa,” lanjutnya.
Ia juga meminta DPRD Kabupaten Pati mengambil peran dalam mengawal rencana tersebut.
Menurut Agus Kliwir, dukungan legislatif diperlukan agar program museum memiliki arah yang jelas dan tidak berhenti sebagai wacana.
“DPRD jangan diam. Program seperti ini perlu dikawal bersama, termasuk konsep, perencanaan, anggaran dan pengelolaannya. Jangan sampai museum berdiri tetapi kemudian tidak terawat,” ungkapnya
Agus Kliwir menambahkan, museum juga dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat identitas Pati Bumi Mina Tani.
Identitas tersebut, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan pertanian dan perikanan, tetapi juga sejarah serta kebudayaan masyarakat.
Ia berharap Pemkab Pati dapat melibatkan pemerhati budaya, sejarawan, akademisi, komunitas, pelaku seni dan masyarakat dalam penyusunan konsep museum.
“Ini harus menjadi rumah bersama untuk sejarah Pati. Kalau semua elemen dilibatkan sejak awal, museum akan memiliki nilai yang lebih kuat dan benar-benar menjadi milik masyarakat Pati,” tutup Agus Kliwir.(red)













































