JAKARTA – Perang modern dalam konflik Iran, Israel dan Amerika Serikat, kini tidak hanya terjadi dalam bentuk serangan militer tetapi juga berlangsung dalam ruang digital melalui propaganda dan manipulasi informasi.
Hal itu disampaikan dalam seminar nasional yang digelar Program Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Jumat (10/4/2026).
Seminar bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? Membaca Konflik Iran, Israel dan AS”
Hal tersebut membahas eskalasi konflik Timur Tengah dari berbagai sudut pandang geopolitik, komunikasi, hingga dampaknya terhadap stabilitas global.
Kaprodi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, Dr. Yoga Santoso menjelaskan bahwa konflik Iran, Israel dan AS mencerminkan pola peperangan baru yang melibatkan dimensi fisik maupun nonfisik.
Menurutnya, perang saat ini telah memasuki era perang persepsi yang memanfaatkan teknologi informasi, untuk membentuk opini publik dunia.
“Konflik ini bukan hanya soal senjata dan pasukan, tetapi juga tentang bagaimana persepsi publik dibentuk melalui media dan teknologi.
Perang narasi digital menjadi bagian penting dari eskalasi konflik,” ujar Dr. Yoga Santoso kepada wartawan, Sabtu (11/4/2026).
Salah satu pembicara, produser media nasional Henry Sianipar menegaskan bahwa AI generatif, deepfake, serta propaganda kreatif telah menjadi senjata baru dalam konflik modern.
Menurutnya, manipulasi algoritma media sosial juga dimanfaatkan untuk menggiring opini publik, sesuai kepentingan pihak tertentu.
Henry menyebut kondisi tersebut menciptakan “kekacauan epistemologis”, yakni situasi ketika masyarakat global kesulitan membedakan informasi yang benar dengan rekayasa digital.
“Dunia bukan sedang menuju perang besar, tetapi sudah memasuki era perang permanen multidimensi.
Ini bukan sekadar konflik regional, tetapi perang global dalam dua ruang, sekaligus fisik dan digital,” ungkap Henry.
Selain perang narasi, seminar tersebut juga membahas kekuatan militer masing-masing pihak.
Praktisi komunikasi strategis Didin Nasirudin menjelaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel unggul dalam teknologi serangan presisi dan kemampuan operasi dekapitasi.
Namun di sisi lain, Iran memiliki ketahanan kuat melalui strategi perang asimetris dan jaringan proksi yang luas.
Menurut Didin, kondisi ini membuat konflik berpotensi berlangsung panjang dan sulit diprediksi.
Ia bahkan memperkirakan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai definitif pada pertengahan 2026, dengan syarat penghentian program nuklir Iran dan normalisasi hubungan kawasan”, kata Didin.
Seminar nasional ini menegaskan pentingnya kajian komunikasi dalam membaca krisis internasional, terutama di era ketika perang
Tidak hanya terjadi melalui kekuatan senjata, tetapi juga melalui layar, platform digital dan kecanggihan teknologi AI.(red)













































