JAKARTA – Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) hari ini berharap gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia, tidak hanya terpusat di tingkat nasional, tetapi juga menjangkau masyarakat di daerah.
Harapan tersebut disampaikan setelah AMPB mengikuti diskusi nasional, yang membahas independensi Komisi Pemberantasan Korupsi di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.
Diskusi tersebut menghadirkan tiga mantan pimpinan KPK, yakni Agus Rahardjo, Abraham Samad dan Busyro Muqoddas.
Ketiga tokoh tersebut berbagi pengalaman dan pandangan mengenai perjalanan pemberantasan korupsi di Indonesia, serta tantangan menjaga independensi lembaga antirasuah.
Perwakilan AMPB, Suharno mengatakan kehadiran masyarakat sipil dalam forum tersebut merupakan bentuk komitmen untuk terus mengawal upaya pemberantasan korupsi.
Menurutnya, masyarakat di daerah juga memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan transparan.
Namun untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan edukasi yang memadai, agar masyarakat memahami peran mereka dalam mengawasi jalannya pemerintahan.
“Kami berharap KPK dapat memperluas program sosialisasi dan pendidikan anti korupsi hingga ke daerah, termasuk Kabupaten Pati,” kata Suharno kepada wartawan, Sabtu (7/3/26).
Ia menilai program edukasi yang dilakukan secara langsung di daerah, akan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Selain meningkatkan kesadaran publik, kegiatan tersebut juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif. dalam melaporkan dugaan penyimpangan atau praktik korupsi
Suharno menekankan bahwa pemberantasan korupsi harus menjadi gerakan bersama, antara pemerintah, aparat penegak hukum dan masyarakat.
Karena itu, pendidikan anti korupsi dinilai menjadi langkah strategis, untuk membangun budaya integritas di tengah masyarakat.
AMPB berharap hasil diskusi nasional tersebut, dapat menjadi pemicu lahirnya berbagai program konkret dari KPK yang menyentuh masyarakat hingga ke tingkat daerah.
Dengan keterlibatan aktif masyarakat, upaya membangun pemerintahan yang bersih diyakini dapat terwujud secara lebih nyata”, ungkap Suharno.(red)








































