JAKARTA – Pers sebagai pilar demokrasi memiliki tanggung jawab besar, dalam menjaga kualitas informasi yang beredar di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikan oleh CEO perusahaan pers, Agus Kliwir saat menyoroti maraknya pemberitaan yang dinilai tidak memenuhi standar etika jurnalistik.
Menurutnya, perkembangan media digital memang membawa banyak kemudahan, dalam penyebaran informasi.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan tantangan baru bagi dunia pers, terutama terkait profesionalisme dan akurasi berita.
Agus Kliwir menekankan bahwa wartawan harus tetap berpegang pada prinsip dasar jurnalistik seperti 5W1H dalam setiap pemberitaan.
Tanpa memenuhi unsur tersebut, informasi yang dipublikasikan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Ia juga menyoroti praktik copy paste berita yang masih sering terjadi di sejumlah media online. Menurutnya, praktik tersebut, tidak mencerminkan kerja jurnalistik yang profesional
Karena, tidak melalui proses verifikasi maupun konfirmasi kepada narasumber.“Berita yang hanya disalin dari sumber lain tanpa proses peliputan bukan karya jurnalistik independen,” ujar Agus Kliwir berbincang dengan wartawan, Rabu (11/3/26).
Ia menilai fenomena ini menjadi salah satu tantangan besar, bagi ekosistem pers di Indonesia.
Banyak media berlomba-lomba menjadi yang tercepat dalam mempublikasikan berita, namun melupakan aspek akurasi dan keseimbangan informasi.
Padahal, kata dia, kepercayaan publik terhadap media sangat bergantung pada kualitas informasi yang disajikan.
Jika media menyampaikan berita yang tidak akurat, maka dampaknya bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi pers secara keseluruhan.
Karena itu, Agus Kliwir mengingatkan para direktur perusahaan media, agar tidak membiarkan praktik pemberitaan yang melanggar etika jurnalistik.
Pemimpin media harus menjadi garda terdepan, dalam menjaga integritas pemberitaan. Menurutnya, media yang profesional tidak hanya mengejar kecepatan publikasi
Tetapi juga memastikan setiap informasi yang disampaikan telah diverifikasi dengan baik.“Media harus menjadi kepercayaan publik, bukan sekadar pemburu kecepatan berita,” pungkasnya.(red)







































